6 kosakata yang makin membuat anda kekinian

Standard

Jakarta sebagai model gulungan (role model) anak muda jaman sekarang tak hentinya membuat tren terbaru. Contohnya yang baru-baru ini terjadi, semua orang berlomba2 untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka `kekinian`. Contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:

  • ’ngebaper dulu ah biar —‘,
  • ‘orang yang — masak masih minta nete ama emak’,
  • ’lo ga mitnah jokowi? gak — lo bro’.

(Sebelum makin ngawur contohnya cukup segitu dulu).

Kekinian dalam KBBI dibentuk dari kata dasar ‘kini’ yang berarti sekarang ini. Kata kini membagi jalinan waktu dari masa lalu, menjadi masa sekarang dan berikutnya. Yap, masa sekarang dan selanjutnya adalah ‘kini’. Itu yang membedakan kata kini dengan kata sekarang. (Sitasi dibutuhkan? Bodo)

Kata ‘kini’ bersifat netral, dalam artian tidak bisa digunakan untuk mengeksploitasi apapun ketika orang menggunakannya. Kata ‘kini’ hanya memaparkan situasi sekarang dengan apa adanya tanpa ada embel-embel politis seperti kata ’nanti, akan, mau, pengennya’. Kenapa anda butuh informasi ini? Tentu saja karena saya ingin mengedukasi para pembaca untuk berhati-hati terhadap kata yang dapat memanipulasi sedemikan sehingga anda terhindari dari korban akibat PHP.

Supaya makin kekinian, saya ingin mengajak kita mempopulerkan turunan dari kata ‘kini’ yang lain. Selain kata kekinian, ada kata lain yang akan kita bahas penggunaannya seperti ‘terkini’, ‘dikinikan’, ‘pengkinian’,  ’sekini’, ‘bikini’, dan  ‘fetukini’.

1. Terkini

Terkini memiliki sinonim dengan terbaru. Lucunya kalau imbuhan ‘ter’ pada kedua kata tersebut dihilangkan, artinya bisa sangat lain. Tapi itu jadi bahasan tentang uniknya bahasa Indonesia yang tidak perlu dibahas disini. Jadi mulai sekarang, hentikan penggunaan kata terbaru. Ganti saja dengan menggunakan kata terkini. Kenapa? Ya elah. Kan kita mau kekinian. Ngartos? Nyaho? Understood?

2. Kinikan/kinii, dikinikan, dan terkinikan

Kinikan dan kinii bisa digunakan sebagai alternatif terjemahan dari ‘update’. Yang kini saya banyak jumpai, ‘update’ diIndonesiakan menjadi  ‘barui’ dan ‘perbarui’. Malah sering saya liat versi kata tersebut yang memiliki imbuhan tengah ‘-ha-‘. Ini sangat mengerikan dan tidak kekinian. Seperti point satu. Ganti kata perba-ha-rui tsb dengan kinikan, atau kinii. Jadi daripada bilang, tolong perbarui OS Android itu dong.

X: “Tolong kinikan OS Android itu dong.”

Tidak terdengar bagus? *Komandan tembak dia*. Ingat! tujuan kita adalah untuk menjadi pribadi dan bangsa yang kekinian, bukan kebaruan. Kalau bisa diganti dengan turunan ‘kini’ kenapa tidak.

Perihal kata ‘dikinikan’ dan ‘terkinikan’, itu untuk melengkapi posisi bentuk pasif dan tidak sengajanya. Jadi setelah mengkinikan OS Android tersebut Anda tinggal bilang.

Y: “Nih bro, OS Androidnya sudah dikinikan.”

Lalu ada teman Anda kaget ketika ingin menggunakan Android tersebut untuk menguji coba Aplikasi di OS Gingerbread.

Z: “Owanjir, siapanya mengkinikan OS Android ini?”

Y (berbisik): “Bro, kan lo tadi yang nyuruh”

Y: “Sorry bro, tadi ada popup muncul, jadi OSnya terkinikan deh.” kata Anda berkelit.

3. Pengkinian

Arti dari pengkinian adalah untuk mengupayakan supaya setiap hal sesuai dengan asas kekinian. Pengkinian adalah turunan kata ‘kini’ yang tidak netral. Tugasnya untuk mempengaruhi, mempolitisir  dan mengubah asas yang tidak sesuai dengan prinsip kekinian sehingga menjadi kekinian. Postingan ini adalah contoh pengkinian umat. Tapi tenang saja, orang Indonesia pada dasarnya selalu berlomba-lomba untuk ‘kekinian’. Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap tren sosial media terkini. Sudah ada 25000 status Facebook dan 30000 foto instagram orang yang pamer aktifitasnya supaya terlihat kekinian. Selain itu juga ada 1 juta twit dan 3000 blog post yang membahas fenomena kekinian. Saya jamin proses pengkinian seperti ini tidak akan mengalami resistensi yang cukup berarti.

4. Sekini

Penggunaan kata sekini terbatas pada tingkat upaya atau tingkat pencapaian sesuatu. Contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:

– “Kita harus mengikuti tren sekini mungkin”.

Penggunan kata sekini sebelumnya lebih populer daripada turunan kata ‘kini’ yang lain. Hal ini terjadi karena sinonimnya adalah ‘seterbaru’ yang sangat tidak enak dibaca atau diucapkan dan bahkan tidak ada di KBBI.

Karena kata ‘sekini’ sudah populer sebelumnya, untuk itu supaya kekinian, kita gunakan kata tersebut untuk hal lain seperti berikut:

– Saya udah beli token listrik 100rb, tapi kok cuma dapet sekini?

– Halo mba, saya cari celana sekini jeans, ada ga?

5. Bikini

Bikini sebenarnya ga ada kaitannya dengan kata dasar kini. Cuma saya bingung aja ternyata gambar bikini muncul ketika anda cari kata kini di kamusbesar.com.

Didukung oleh Google toh. Pantes, Google kan perusahaan kafir, antek mamarika. Pasti disusupin untuk merusak moral anak muda Indonesia.

6. Fetukini

Fetukini adalah makanan dari Italia. Nama aslinya adalah fetucini. Namun, karena ini adalah Indonesia dan bukan Sparta, kita harus menyerap kata fetucini sehinggal lebih Indonesiai dan kekinian. Sehingga jadilah sebutannya fetukini.

Foto fetukini.

Semoga dengan secara resminya fetukini diserap, orang Indonesia secara kreatif dapat membuat fetukini versi Indonesia. Beberapa yang terfikir oleh saya adalah fetukini cabe ijo, fetukini rasa rendang, fetukini rasa sate ayam. Hmm.. jadi ngiler.

Sekian dari saya. Mas2 dan mbak2 jangan ngaku kekinian ya kalo belum mengaplikasikan tren terkini yang saya sudah paparkan diatas.

Notes:

Tanda ‘—’ dibaca dengan mengulang kata yang sedang dibahas.

Disclaimer: This is a joke post. Please don’t take it personally. I used my spare time to write this, so please ask me out to do more meaningful activities LOL.

Advertisements

Sebuah refleksi terhadap hasil dari peradaban manusia selama ribuan tahun

Standard

2006, saya yang telah menginjak kelas 2 bangku SMA pertama kalinya  merasakan Internet. Ehm, bukan Indomi telor kornet  karena dulu saya tidak pernah punya uang jajan, jadi tidak pernah mampu makan di kantin. Di kelas sedang ramai-ramainya Friendster, media sosial  sederhana (masih belum AJAX, cupu deh) tempat orang membungkus kata-kata melalui borang, saling memberikan kesan, dan hal alay lainnya. Beberapa kali saya diajak oleh teman saya ke warung internet (warnet) untuk menemaninya bermain Friendster. Saya pun menerima ajakannya karena dia yang  akan membiayai tagihannya. Dulu saya dekat dengan beberapa teman wanita dan cukup terampil dalam pelajaran komputer (Word dan Excel doang elah namun benar-benar awam kalo soal Internet). Saya gunakan saja kesempatan itu untuk mengeksplorasi dunia maya. Hal yang saya lakukan di dunia maya adalah membuka tautan-tautan yang terdapat pada majalah komputer seperti CHIP/PCMEDIA. Dulu majalah semacam itu menyediakan beragam perangkat lunak dan menyertakan tautan tempat perangkat lunak tersebut diunduh. Saya beli yang edisi Agustus 2006 juga sudah cukup karena software di CDnya bisa saya update terus dengan menggunakan tautan yang ada. Lama kelamaan, saya menggunakan internet dengan menggunakan uang yang ditabung, untuk mengunduh software, wallpaper, thema untuk desktop saya, dan hal-hal tak berguna lainnya. (Sepertinya berguna, karena kalau dulu saya tidak melakukan aktifitas seperti ini, saya tidak akan kuliah di jurusan Ilmu Komputer.)

Itu dulu, aktifitas saya pertama kali dengan Internet.

Di tahun 2007, saya menggunakan Internet untuk hal yang lebih serius, yaitu menggunakannya untuk mencari latihan soal SPMB (uhuk, tidak memiliki uang untuk membeli bank soal fisik, uhuk). Hal ini lah yang membawa saya ke sebuah forum di Internet, yaitu http://spmb-lover.forumer.net (? lupa url persisnya). Pada forum itu saya pun kepincut dengan hubungan sosial di Internet. Mengenal orang baru, melawak, menuliskan cita-cita dan harapan, berbagi informasi dan hal lainnya membuat saya betah untuk pergi ke warnet 2 sampai 3 jam hanya membuka forum ini saja (tentu saja sambil mendownload aplikasi dan thema desktop terbaru).  Saya menggunakan forum ini sampai tahun 2009, setelah itu lupa, katanya sempat migrasi, karena banyak orang yang dikenal sudah tidak pernah online, dan banyaknya orang baru, saya pun beralih dari forum ini, lagian, udah mahasiswa juga :p.

Akhir tahun 2008 dimulailah hari-hari yang tidak produktif dengan Internet, yaitu ketika ‘sang anak Adam’ mendaftar di Facebook. Pagi, siang, malam, subuh, di depan facebook terus, teknologi chatting dan wall-wallan dengan orang lain begitu menarik hati, karena bisa 24 jam berhubungan dengan teman kampus ataupun kenalan lain. Produk internet lain pun banyak sekali bermunculan pada waktu itu, bisa dibilang bahwa 2008-2011 dimana saya sebagai mahasiswa dengan bebas memiliki fasilitas untuk mengeruk ilmu pengetahuan dengan Internet namun dihabiskan dengan hal-hal sia-sia (daripada mubazir kan? :p). Tapi, lama-kelamaan bosan juga. Setelah 2011, sudah tidak begitu banyak aktifitas di Facebook dan sosial media lain. Sehingga sekarang saya bertanya-tanya: Sejak 2011, selain untuk urusan kuliah (dulu) dan  kerja (sekarang), Internet digunakan untuk apa? Apa ya. Susah banget jawabnya. Hasil dari ribuan tahun peradaban manusia yang bernama Internet, sekarang digunakan untuk apa?

Lalu saya berfikir lagi, tentu saja internet digunakan pada akhirnya untuk membantu pekerjaan. Di luar itu, internet digunakan untuk rekreasi. Tinggal kitanya sendiri yang menentukan apakah kita enjoy dengan rekreasi tersebut. Sekarang, saya sudah tidak mendapatkan rekreasi ketika membuka Facebook, atau membuka Quora untuk sekadar membaca jawaban subjektif orang lain. Rekreasi saya dengan internet sejak 2012  adalah game online.Dimana pada tahun 2015 ingin saya tinggalkan karena saya sudah makin muak. Saya ingin beralih ke rekreasi  di dunia nyata. Tapi saya lupa, saya tinggal di Indonesia. Dimana sangat biasa tempat tinggal jauh dari tempat kerja. Tidak memungkinkan untuk beraktifitas normal sambil rekreasi sehingga Internet sayang untuk dilewatkan. Ah, dilemma.

Saya menyimpulkan  beberapa siklus dari penggunaan rekreasi internet saya.
Fase 1 (2006-2007) : Gunakan untuk hal yang saya senangi dan bermanfaat (Oprek2 komputer)
Fase 2 (2007-2008) : Gunakan untuk bersosialisasi ke lingkup luar seperti share info, tips, gosip.
Fase 3 (2008-2011) : Gunakan untuk bersosialisasi sia-sia (Update status, kata-kataan, kirim game request)
Fase 4 (2012-2015) : Gunakan untuk hal yang saya senangi tapi sia-sia (Main game)

Fase 5 (2015-?): Gunakan untuk hal yg disenangi sambil bersosialisasi yg bermanfaat. Adakah sarana untuk itu?

Komen dong, dulu menggunakan internet pertama kali untuk apa? Kalau sekarang?