Trip To Japan – Dec-Jan 2016

Standard

Yes, I am planning to go to Japan during Winter.

It is crazy. I know.

In my office, averagely the temperature is 26˚C. Whenever it goes below, I will need to put my jacket on and still got a little shiver. I don’t know what will happen to my body in an environment below 18 degree.

Well, ticket is bought and it is 800 USD. Money that won’t go back to my pocket.

I will just listen to the old proverb: don’t curse the darkness, instead get your phone and turn on your torch feature.

So, I will put my progress of my preparation here. Some keyword I have use when planning it: How to survive winter in Japan, cheap food, Tokyo cheap attraction, and how to find any friend to accompany me during the day T_T.

Bye Bye to the Hipster Pasar Santa?

Standard

Untuk udah pernah kesana :p dan overrated

Unspun

The hipster market at Pasar Santa has always seemed a bit suspect to Unspun.

When hipster “entrepreneurs” started setting up shops at the upper floor of the badly constructed building, Unspun, made the pilgrimage to have a look at what the fuss was about.


What Unspun found there were a seemingly vibrant atmosphere. Seeming because there were the trappings of youthful energy, creativity and entrepreneurship – a very sexy word these days – mushrooming around the top floor of the largely underused market. There were artisanal coffee shops, ice cream shops all sorts of food that was chic such as black dogs – charcoal infused bread with the usual wiener – retro record shops, handcrafted shoes, T shirts and whatevers.

You’d be forgiven if you thought you were witnessing nothing less than a Renaissance of Indonesian creativity and entrepreneurship was taking place.

But if you looked at the spectacle beyond…

View original post 341 more words

6 kosakata yang makin membuat anda kekinian

Standard

Jakarta sebagai model gulungan (role model) anak muda jaman sekarang tak hentinya membuat tren terbaru. Contohnya yang baru-baru ini terjadi, semua orang berlomba2 untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka `kekinian`. Contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:

  • ’ngebaper dulu ah biar —‘,
  • ‘orang yang — masak masih minta nete ama emak’,
  • ’lo ga mitnah jokowi? gak — lo bro’.

(Sebelum makin ngawur contohnya cukup segitu dulu).

Kekinian dalam KBBI dibentuk dari kata dasar ‘kini’ yang berarti sekarang ini. Kata kini membagi jalinan waktu dari masa lalu, menjadi masa sekarang dan berikutnya. Yap, masa sekarang dan selanjutnya adalah ‘kini’. Itu yang membedakan kata kini dengan kata sekarang. (Sitasi dibutuhkan? Bodo)

Kata ‘kini’ bersifat netral, dalam artian tidak bisa digunakan untuk mengeksploitasi apapun ketika orang menggunakannya. Kata ‘kini’ hanya memaparkan situasi sekarang dengan apa adanya tanpa ada embel-embel politis seperti kata ’nanti, akan, mau, pengennya’. Kenapa anda butuh informasi ini? Tentu saja karena saya ingin mengedukasi para pembaca untuk berhati-hati terhadap kata yang dapat memanipulasi sedemikan sehingga anda terhindari dari korban akibat PHP.

Supaya makin kekinian, saya ingin mengajak kita mempopulerkan turunan dari kata ‘kini’ yang lain. Selain kata kekinian, ada kata lain yang akan kita bahas penggunaannya seperti ‘terkini’, ‘dikinikan’, ‘pengkinian’,  ’sekini’, ‘bikini’, dan  ‘fetukini’.

1. Terkini

Terkini memiliki sinonim dengan terbaru. Lucunya kalau imbuhan ‘ter’ pada kedua kata tersebut dihilangkan, artinya bisa sangat lain. Tapi itu jadi bahasan tentang uniknya bahasa Indonesia yang tidak perlu dibahas disini. Jadi mulai sekarang, hentikan penggunaan kata terbaru. Ganti saja dengan menggunakan kata terkini. Kenapa? Ya elah. Kan kita mau kekinian. Ngartos? Nyaho? Understood?

2. Kinikan/kinii, dikinikan, dan terkinikan

Kinikan dan kinii bisa digunakan sebagai alternatif terjemahan dari ‘update’. Yang kini saya banyak jumpai, ‘update’ diIndonesiakan menjadi  ‘barui’ dan ‘perbarui’. Malah sering saya liat versi kata tersebut yang memiliki imbuhan tengah ‘-ha-‘. Ini sangat mengerikan dan tidak kekinian. Seperti point satu. Ganti kata perba-ha-rui tsb dengan kinikan, atau kinii. Jadi daripada bilang, tolong perbarui OS Android itu dong.

X: “Tolong kinikan OS Android itu dong.”

Tidak terdengar bagus? *Komandan tembak dia*. Ingat! tujuan kita adalah untuk menjadi pribadi dan bangsa yang kekinian, bukan kebaruan. Kalau bisa diganti dengan turunan ‘kini’ kenapa tidak.

Perihal kata ‘dikinikan’ dan ‘terkinikan’, itu untuk melengkapi posisi bentuk pasif dan tidak sengajanya. Jadi setelah mengkinikan OS Android tersebut Anda tinggal bilang.

Y: “Nih bro, OS Androidnya sudah dikinikan.”

Lalu ada teman Anda kaget ketika ingin menggunakan Android tersebut untuk menguji coba Aplikasi di OS Gingerbread.

Z: “Owanjir, siapanya mengkinikan OS Android ini?”

Y (berbisik): “Bro, kan lo tadi yang nyuruh”

Y: “Sorry bro, tadi ada popup muncul, jadi OSnya terkinikan deh.” kata Anda berkelit.

3. Pengkinian

Arti dari pengkinian adalah untuk mengupayakan supaya setiap hal sesuai dengan asas kekinian. Pengkinian adalah turunan kata ‘kini’ yang tidak netral. Tugasnya untuk mempengaruhi, mempolitisir  dan mengubah asas yang tidak sesuai dengan prinsip kekinian sehingga menjadi kekinian. Postingan ini adalah contoh pengkinian umat. Tapi tenang saja, orang Indonesia pada dasarnya selalu berlomba-lomba untuk ‘kekinian’. Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap tren sosial media terkini. Sudah ada 25000 status Facebook dan 30000 foto instagram orang yang pamer aktifitasnya supaya terlihat kekinian. Selain itu juga ada 1 juta twit dan 3000 blog post yang membahas fenomena kekinian. Saya jamin proses pengkinian seperti ini tidak akan mengalami resistensi yang cukup berarti.

4. Sekini

Penggunaan kata sekini terbatas pada tingkat upaya atau tingkat pencapaian sesuatu. Contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:

– “Kita harus mengikuti tren sekini mungkin”.

Penggunan kata sekini sebelumnya lebih populer daripada turunan kata ‘kini’ yang lain. Hal ini terjadi karena sinonimnya adalah ‘seterbaru’ yang sangat tidak enak dibaca atau diucapkan dan bahkan tidak ada di KBBI.

Karena kata ‘sekini’ sudah populer sebelumnya, untuk itu supaya kekinian, kita gunakan kata tersebut untuk hal lain seperti berikut:

– Saya udah beli token listrik 100rb, tapi kok cuma dapet sekini?

– Halo mba, saya cari celana sekini jeans, ada ga?

5. Bikini

Bikini sebenarnya ga ada kaitannya dengan kata dasar kini. Cuma saya bingung aja ternyata gambar bikini muncul ketika anda cari kata kini di kamusbesar.com.

Didukung oleh Google toh. Pantes, Google kan perusahaan kafir, antek mamarika. Pasti disusupin untuk merusak moral anak muda Indonesia.

6. Fetukini

Fetukini adalah makanan dari Italia. Nama aslinya adalah fetucini. Namun, karena ini adalah Indonesia dan bukan Sparta, kita harus menyerap kata fetucini sehinggal lebih Indonesiai dan kekinian. Sehingga jadilah sebutannya fetukini.

Foto fetukini.

Semoga dengan secara resminya fetukini diserap, orang Indonesia secara kreatif dapat membuat fetukini versi Indonesia. Beberapa yang terfikir oleh saya adalah fetukini cabe ijo, fetukini rasa rendang, fetukini rasa sate ayam. Hmm.. jadi ngiler.

Sekian dari saya. Mas2 dan mbak2 jangan ngaku kekinian ya kalo belum mengaplikasikan tren terkini yang saya sudah paparkan diatas.

Notes:

Tanda ‘—’ dibaca dengan mengulang kata yang sedang dibahas.

Disclaimer: This is a joke post. Please don’t take it personally. I used my spare time to write this, so please ask me out to do more meaningful activities LOL.

Sebuah refleksi terhadap hasil dari peradaban manusia selama ribuan tahun

Standard

2006, saya yang telah menginjak kelas 2 bangku SMA pertama kalinya  merasakan Internet. Ehm, bukan Indomi telor kornet  karena dulu saya tidak pernah punya uang jajan, jadi tidak pernah mampu makan di kantin. Di kelas sedang ramai-ramainya Friendster, media sosial  sederhana (masih belum AJAX, cupu deh) tempat orang membungkus kata-kata melalui borang, saling memberikan kesan, dan hal alay lainnya. Beberapa kali saya diajak oleh teman saya ke warung internet (warnet) untuk menemaninya bermain Friendster. Saya pun menerima ajakannya karena dia yang  akan membiayai tagihannya. Dulu saya dekat dengan beberapa teman wanita dan cukup terampil dalam pelajaran komputer (Word dan Excel doang elah namun benar-benar awam kalo soal Internet). Saya gunakan saja kesempatan itu untuk mengeksplorasi dunia maya. Hal yang saya lakukan di dunia maya adalah membuka tautan-tautan yang terdapat pada majalah komputer seperti CHIP/PCMEDIA. Dulu majalah semacam itu menyediakan beragam perangkat lunak dan menyertakan tautan tempat perangkat lunak tersebut diunduh. Saya beli yang edisi Agustus 2006 juga sudah cukup karena software di CDnya bisa saya update terus dengan menggunakan tautan yang ada. Lama kelamaan, saya menggunakan internet dengan menggunakan uang yang ditabung, untuk mengunduh software, wallpaper, thema untuk desktop saya, dan hal-hal tak berguna lainnya. (Sepertinya berguna, karena kalau dulu saya tidak melakukan aktifitas seperti ini, saya tidak akan kuliah di jurusan Ilmu Komputer.)

Itu dulu, aktifitas saya pertama kali dengan Internet.

Di tahun 2007, saya menggunakan Internet untuk hal yang lebih serius, yaitu menggunakannya untuk mencari latihan soal SPMB (uhuk, tidak memiliki uang untuk membeli bank soal fisik, uhuk). Hal ini lah yang membawa saya ke sebuah forum di Internet, yaitu http://spmb-lover.forumer.net (? lupa url persisnya). Pada forum itu saya pun kepincut dengan hubungan sosial di Internet. Mengenal orang baru, melawak, menuliskan cita-cita dan harapan, berbagi informasi dan hal lainnya membuat saya betah untuk pergi ke warnet 2 sampai 3 jam hanya membuka forum ini saja (tentu saja sambil mendownload aplikasi dan thema desktop terbaru).  Saya menggunakan forum ini sampai tahun 2009, setelah itu lupa, katanya sempat migrasi, karena banyak orang yang dikenal sudah tidak pernah online, dan banyaknya orang baru, saya pun beralih dari forum ini, lagian, udah mahasiswa juga :p.

Akhir tahun 2008 dimulailah hari-hari yang tidak produktif dengan Internet, yaitu ketika ‘sang anak Adam’ mendaftar di Facebook. Pagi, siang, malam, subuh, di depan facebook terus, teknologi chatting dan wall-wallan dengan orang lain begitu menarik hati, karena bisa 24 jam berhubungan dengan teman kampus ataupun kenalan lain. Produk internet lain pun banyak sekali bermunculan pada waktu itu, bisa dibilang bahwa 2008-2011 dimana saya sebagai mahasiswa dengan bebas memiliki fasilitas untuk mengeruk ilmu pengetahuan dengan Internet namun dihabiskan dengan hal-hal sia-sia (daripada mubazir kan? :p). Tapi, lama-kelamaan bosan juga. Setelah 2011, sudah tidak begitu banyak aktifitas di Facebook dan sosial media lain. Sehingga sekarang saya bertanya-tanya: Sejak 2011, selain untuk urusan kuliah (dulu) dan  kerja (sekarang), Internet digunakan untuk apa? Apa ya. Susah banget jawabnya. Hasil dari ribuan tahun peradaban manusia yang bernama Internet, sekarang digunakan untuk apa?

Lalu saya berfikir lagi, tentu saja internet digunakan pada akhirnya untuk membantu pekerjaan. Di luar itu, internet digunakan untuk rekreasi. Tinggal kitanya sendiri yang menentukan apakah kita enjoy dengan rekreasi tersebut. Sekarang, saya sudah tidak mendapatkan rekreasi ketika membuka Facebook, atau membuka Quora untuk sekadar membaca jawaban subjektif orang lain. Rekreasi saya dengan internet sejak 2012  adalah game online.Dimana pada tahun 2015 ingin saya tinggalkan karena saya sudah makin muak. Saya ingin beralih ke rekreasi  di dunia nyata. Tapi saya lupa, saya tinggal di Indonesia. Dimana sangat biasa tempat tinggal jauh dari tempat kerja. Tidak memungkinkan untuk beraktifitas normal sambil rekreasi sehingga Internet sayang untuk dilewatkan. Ah, dilemma.

Saya menyimpulkan  beberapa siklus dari penggunaan rekreasi internet saya.
Fase 1 (2006-2007) : Gunakan untuk hal yang saya senangi dan bermanfaat (Oprek2 komputer)
Fase 2 (2007-2008) : Gunakan untuk bersosialisasi ke lingkup luar seperti share info, tips, gosip.
Fase 3 (2008-2011) : Gunakan untuk bersosialisasi sia-sia (Update status, kata-kataan, kirim game request)
Fase 4 (2012-2015) : Gunakan untuk hal yang saya senangi tapi sia-sia (Main game)

Fase 5 (2015-?): Gunakan untuk hal yg disenangi sambil bersosialisasi yg bermanfaat. Adakah sarana untuk itu?

Komen dong, dulu menggunakan internet pertama kali untuk apa? Kalau sekarang?

Distribusi Normal dan Gado-gado

Standard

Di suatu hari, pada perkuliahan statistika, seorang dosen menjelaskan perihal distribusi normal.

Dosen: “Distribusi normal diperlukan untuk memberikan interpretasi atau makna data kepada sebuah distribusi nilai yang tersebar secara acak pada suatu populasi berdasarkan frekuensi kemunculannya, bla bla bla” (suaranya makin menghilang)

Terdengar suara bisik-bisik dari belakang keles, eh kelas.

Ani: *Nguap* “Sus, nanti siang kita makan dimana?”

Susi: “Ssst, gw lagi fokus belajar, urusan makan biar menjadi permasalahan ketika waktu makan, masing-masing kegiatan memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, jadi berhentilah kuatir anak muda, Ok. Btw, pak dosen kok inaudible gitu sih?”

Tuti maju ke depan menghampiri pak dosen.

Tuti: “Pak, kok suaranya makin habis? Makan ini dulu pak,” katanya sambil menyodorkan snack stickers.

Dosen: *inaudible* “Oh iya, makasih ya tut,” pak dosen pun memakan snack tersebut dan menyimpan hadiah sticker seorang personil dari idol group lokal di kota itu.

Dosen: “Oke, saya lanjutkan. Permasalahan dari distribusi normal adalah, ketika ada pencilan datum, yaitu yg akan merusak ekspektasi dari datanya, tapi, ah sudahlah,” dia tidak bisa menjelaskan lagi, masih lapar dan tak bertenaga.

Badu, seorang anak lemot tapi pintar sepertinya tidak mengerti sehingga melontarkan batu eh, pertanyaan ke pak Dosen.

Badu: “Pak, saya ga ngerti, bisa kasih contoh distribusi normal dan pencilan yang bisa merusaknya tidak pak?”

Lola: “Pak, pak, pencilan itu apa ya pak? Sejenis alat tulis lain? Pencil-an, sejenis pensil gitu pak?”

Dosen: “Oke, terima kasih pertanyaannya ya Badu dan Lola. Terutama Lola, kamu loadingnya agak lama ya. Saya agak bersyukur kamu ga menanyakan kita sedang kuliah apa. Anak-anak, ada yang bisa bantu saya untuk menjelaskan ke Badu dan Lola?”

Susi: “Saya pak, saya pak, saya pak!!!!!”

Dosen: “Anak-anak, adakah yang bisa?”

Pak dosen pura-pura tidak menghiraukan Susi.

Susi: “Saya pak, please, saya”

Dosen: “Jika tidak ada yang bisa, saya akan suruh asisten saya yang sekarang berada di Bekasi untuk mengadakan asistensi darurat untuk menjelaskan pertanyaan tadi”

Susi: “Saya pak, SAYAAAAAAA”

Dosen: “Baiklah,” katanya tertunduk lesu. “Silahkan Susi, jelaskan ke Badu dan Lola”

Susi: *dengan penuh semangat* “Distribusi normal itu, ibaratnya kaya gado-gado yang ada cabenya. Pokoknya kita bisa pesen ke bapak tukang gado-gadonya. Pak beli gado-gado. Terus kita bisa request, gado-gadonya mau pedes, sedang, atau ringan. Kalo bisa digambarkan dengan graf, maka yg pedes ini puncaknya agak curam, kalo yang sedang agak rendah, sedangkan yang ringan bisa dibilang agak rata. Kalau aku paling suka sedeng ya. Soalnya aku tuh paling ga bisa makan tanpa cabe, cabe itu ngangenin banget. Pokoknya, ga bisalah makan tanpa cabe. Kalo ga pake cabe hambar. Ga enak. Ga doyan. Dimuntahkan. Tapi, si cabe ini sayangnya suka mengkhianati aku. Gado-gado yang pedasnya sedang ini aku harapin sih sepanjang aku makan pedasnya akan merata. Tapi nyatanya. Suka ada pencilannya. Ada cabe masih utuh. Dan ketika itu kemakan. Haduh, luar biasa. Muka merah, mata terbakar, mulut seperti neraka. Duh, si cabe utuh ini adalah sang pencilan terkutuk. Emak-emak di kampungku menyebut cabe utuh ini ‘ranjau’. Bisa bikin kita yang lagi happy-happy makan mati sekejap kalau terkena. Para statistikawan pun membenci pencilan-pencilan macam ini. Data sudah terplot bagus-bagus tiba-tiba ada datum dengan nilai extrim masuk ke populasi. Saya pun demikian bencinya, karena saya susah menyimpulkan kalo gado-gado itu pedasnya masih sedang atau tidak, pada bagian lain dia hambar sekali, tapi pada bagian lain kemakan ranjaunya. Hiks.”

Susi pun meneteskan air mata setelah berapi-api menjelaskan analoginya. Dia teringat pengkhianatan cabe di gado-gado makan siangnya kemarin.

Pak Dosen hanya bisa menepuk muka ketika hal ini terjadi lagi. Sudah berkali-kali susi menganalogikan pelajaran dengan makanan.

Di samping Susi, ada Ani yang memasang muka sebal.

Ani: “Masing-masing kegiatan punya masalahnya sendiri-sendiri mukelu jauh Sus. Belom-belom udah nyangkutin makanan sama perkuliahan.”

Writing practice with Ayub

Standard

Because of my increased frequency of writing (not just in this blog), then it is the time to get more personal to you, my reader. 🙂

*assertNotNull(reader); unit test pass. YEYYY, I assumed I have readers*

In the future, I will introduce you to my family member. Just with their nick name of course. The reason is, sometimes I found them very funny, and this writing also to document any silly things that occurred, even though it is rarely worth to write.

For this post, I will talk about my youngest bro. I really love to chat with this little dude. He has lots of curiosity. And since my father had passed away, I have to fill the role of father figure for him. I talk to him about things I know.

I tried so hard to talk with him about things so that it can be adsorbed by a 15 years old mind. Sometimes I’ll glad if for the first time he understands what I am saying.

He just reviewed the Chapter 7 of my novel blog. He said it has lots of typos and the story is not too fun. So, this time, I need to get him to sit next to me. To talk about things he don’t understand and explain what bothers him regarding the story.

I told him that the typos were as a result of a ‘smart’ text editor I used. It sometimes change Indonesian word to English one. As for story, I explain that this chapter, even when it is not fun, it is important for the expansion of the existing plot while the fun part is not a target. It is just a tool to have fun with the characters. He agreed and he happy it has the chapter.

Later, I introduced him with the editor. It is IA Writer, an OS X app. It has four flows of writing. Note, Write, Edit, and Read. I tried to make illustration about the process, so I asked. “What story you want to make?” “Hmmm,” he thinks.

“Oke, lets start to take a note about what we want to write,” I proposed and start to type.

Ibu memanggil ayub
ayub memecahkan piring
bang onel marah karena mama teriak-teriak
bang echon pusing karena lagi ngoding orang rumah pada ribut.

“In this flow. You are free to jot anything you want to make people to read.” I said more to him. “It doesn’t need to be good at first, at least you got the idea.”

“Ok,” he replied.

Now I start to describe the Write flow.

“This is the phase when we are serious to choose the final idea.” I started to elaborate each line. It resulted as this:

“Ayub, cuci piring sana,”
“Iya mama apa sih,” kata Ayub ngelawan.
“AYUB, CEPET GA,” Bang onel pun

“Ribut semua, diam ga atau ga gw kasih belanja,” ancam Bang Echon

Mereka pun akhirnya tenang, dan mama pun belanja.

He laugh a bit, because he has such experience about the situation.

“So, when you write, try to make an illustration of real world experience. It doesn’t need to exactly accorded to the note” said I.

Now we go to Edit flow. “This is the exciting part, we wrote all things until it is ready for reader to read.” We discuss the part and we arrange all letters into these:

“Ayub, cuci piring sana,” kata mama berteriak.

Sudah dua puluh kali mama berteriak, tapi Ayub masih tidak bergeming. Ayub masih sangat santai main Dota (Dota 1 pula).

“Iya mama apa sih,” kata Ayub ngelawan.

Mama pun memperbesar amplitudo dari gelombang suaranya. Suaranya itu membuat keseluruhan rumah bergetar. Ayam jago orang depan pun bertelor saking kerasnya.

“AYUB, CEPET GA,” Bang onel pun dengan naik pitam terbangun dengan marahnya. Dia marah seperti seorang kue donat yang tengahnya selalu disisakan. “Aku kesal,” kata kue donat.

“Ribut semua, diam ga atau ga gw kasih belanja,” ancam Bang Echon

Mereka pun akhirnya tenang, dan mama pun belanja.

After I finished the illustration, his laugh bursted out into the air. Me too fall into laughter. As I showed my older brother the writing result, he too got the laughter because it really resembles some event in one of our morning. We reviewed the writing. Why we laugh? Is this writing fun? “Yes,” he replied. Then I start to talk about him the key to make the story fun.

  1. It resembles our experience:
    • he sometimes play dota 1 a lot, being called by mother until she got pissed off)
    • My older brother sometimes got pissed off when my mother got pissed off
    • I provide day to day groceries
  2. The writing tries the metaphor of situation by comparing the loud noise so that a cock laying eggs or mad like a doughnut mad because of its center always left out. They are not make any sense of good metaphor. This is why they laugh.
  3. The climax is exaggerating of the groceries impact to calm down the situation

I told my little bro, that the punch line is perfect, because it resolves all possible conflict with just a sentence. That is in order to have groceries, all family members cooperate to have a conducive situation: Ayub do the dishes, so that my mother calm down, and my older brother got calm too.

I also told him to always pay attention to Indonesian language. Choose word, knit them into beautiful of stories in our local taste. It is nice to have our language being used in stories. Because, even when there is a good Indonesian writer targeted English user. That writer won’t get recognized, a bit. Except if she or he is the next J.K. Rowling. But, if he or she focused on their own language, he or she will have all the possible expression. The readers will got the same joke and have close relation with the written piece.

He agreed, and I hope I give a good lesson for him.

Kata pengantar Chapter 6. Patrick Almighty

Standard

Halo teman-teman pembaca Patrick Almighty. Sebelumnya saya memohon maaf atas penundaan posting Chapter 6 yang cukup lama. Sekitar 4 bulan. Hehehe. Sebenarnya ada cukup banyak alasan saya kenapa menunda terlalu lama.

1. Sibuk dengan kerjaan kantor

Saya mulai kerja 2 Mei dan kerjaanku itu programming, yang menuntuk aktifitas otak yang cukup berat. Boro-boro bisa mikirin chapter baru, weekend bawaannya pengen main gara-gara weekdays mumet. *Jujur kan*

2. Banyak musibah

Bulan demi bulan ada aja musibah, Juni, Juli, sampai Agustus, makanya jadi banyak pikiran. Tentunya ga perlu dibahas disini, malah curcol jadinya. Haha.

3. Masih belum ada inspirasi untuk beberapa bagian plot

Walaupun cerita novel ini sudah kepikiran plot akhirnya, aku masih sulit untuk menyusun cerita yang menuju kesananya. Mungkin karena ga ada pendidikan penulis ya. Jadinya hal ini yang demotivasi saya banget untuk ngepost chapter baru.

4. I don’t know whether people read this novel or not

Tadinya posting novel blog ini dengan ekspektasi ada yang baca syukur, ga ada yang baca ya udah. Aku udah coba minta RT-in @HumorGereja di twitter bahkan tapi ga ada respon. Dari alur cerita yang singkat dan bahasa yang ga bertele-tele, aku kepikiran kalo target novel blog ini adalah kalangan SMP sampai Mahasiswa tingkat 1. Kalo lebih dewasa dari itu sepertinya ga akan suka cerita yang gampang ditebak, joke yang garing, dll. Prove me wrong on that. So, siapa sih yang baca? Nah, plus 3 alasan pertama diatas, nunda terus deh keasikan. Toh, ga ada yang aware juga kalo gw ga lanjutin ceritanya.

Mulai sekarang saya ingin serius nulis lagi. Karena enggak cuma pembaca aja, penulisnya juga pengen novel blog ini paripurna alias kelar. Hehe. Jadi stay tune ya. Komitmen saya 1 bulan sekali post 1 chapter. Moga bisa ditepati. Tentunya kalau ada interaksi dari pembaca yang antusias saya jadi semangat.

Patrick Almighty sudah punya facebook page. Jadi kalau kamu pembaca dari novel blog ini, silahkan dilike ya.